Monday, 10 August 2015

Pengertian Majas


Pengertian Majas
Majas disebut juga gaya bahasa. Majas adalah pemanfaatan gaya bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk mendapat efek - efek yang membuat suatu kalimat/cerita semakin hidup dan indah agar tercipta suatu kesan imajinatif bagi penyimaknya / pendengarnya baik secara tertulis maupun tidak tertulis. Majas banyak dipergunakan dalam berbagai karya sastra dan literatur bahasa. Tujuan dalam pemanfaatan majas tentunya untuk menarik perhatian pembaca/pendengarnya dalam pengungkapan suatu maksud di dalam karya sastra. Biasanya penggunaan majas diterapkan dalam puisi, cerpen, pantun, maupun karya sastra lainnya. Tujuan lebih rinci dari penggunaan majas adalah:
1. menggambarkan karakter tokoh dalam cerpen/novel;
2. Mendeskripsikan tema sebuah pantun/puisi,
3. Memperindah penyampaian amanat karya sastra.
4. Menarik perhatian pembaca/pendengar/penonton;
5. Memberikan ilustrasi imajinatif melalui kata-kata.


Jenis - jenis majas di dalam pemakaian-nya berbeda - beda. Kategori majas di dalam bahasa ada 4 macam, antara lain:

1. Majas Perbandingan, yaitu kata-kata kiasan untuk menyatakan perbandingan dalam peningkatan kesan dan pengaruhnya bagi pembaca/pendengarnya;
2. Majas Pertentangan, yaitu kata-kata yang memiliki kiasan dan menyatakan pertentangan dengan yang dimaksudkan sebenarnya oleh penulis/pembicara dengan maksud untuk meningkatkan  / meninggalkan kesan kepada pembaca/pendengar;
3. Majas Sindiran, yaitu kata-kata kiasan yang menyatakan sindiran / kritik terhadap suatu hal untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya bagi pembaca/pendengar-nya;
4. Majas Penegasan, yaitu kata-kata kiasan yang menyatakan penegasan untuk menyatakan maksud penulis/pembicara dalam meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap pembaca/pendengar-nya.

Keseluruhan kategori majas di atas memiliki bagian - bagian yang lebih spesifik. Bagian - bagian tersebut  dapat dibagi menjadi beberapa sub-kategori di dalam pengelompokan majas tersebut sebagai berikut:


A. Majas Perbandingan, terdiri atas:
  1. Alegori :Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran;
2. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal;
3. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknyabagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai";
4. Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama;
5. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia;
6. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya;
7. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis;
8. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang;
9. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut;
10. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib;
11. Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri;
12. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal;
13. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia;
14. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa;
15. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek;
16. Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian;
17. Eufemisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus;
18. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya;
19. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata;
20. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita;
21. Perifrasa: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek;
22. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata;
23. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud;
24. Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.

B. Majas Pertentangan, terdiri atas:
1.Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar;
2.Oksimoron: Paradoks dalam satu frasa;
3.Antitesis:Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya;
4.Kontradiksi Interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya;
5.Anakronisme:Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.

C. Majas Sindiran, terdiri atas:

1.Ironi:Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut;
2.Sarkasme:Sindiran langsung dan kasar;
3.Sinisme:Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi);
4.Satire:Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll;
5.Innuendo:Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.

D. Majas Penegasan, terdiri atas:

1.Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan;
2.Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan;
3.Repetisi: Perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat;
4.Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan;
5.Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan;
6.Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar;
7.Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya;
8.Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu;
9.Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang     berlainan;
10.Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting;
11.Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting;
12.Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya;
13.Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut;
14.Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada;
15.Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya;
16.Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung;
17.Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung;
18.Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat;
19.Eksklamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru;
20.Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan;
21.Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya;
22.Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan;
23.Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat;
24.Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis;
25.Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.



Sumber rujukan: wikipedia dan buku - buku pelajaran bahasa Indonesia SD dan SMP



No comments:

Post a Comment